Sosiologi Olahraga, Bagi Anda yang sedang menempuh perkuliahan POK sepertinya medapatkan materi perkuliahan sosiologi olahraga dan umumnya pada semester VI. Tapi hampir semua materi yang berkaitan dengan sosiologi olahraga tidak semuanya dijelaskan dan diberikan pada sesi perkuliahan, sehingga banyak mahasiswa yang harus aktif mencari mengenai materi perkuliahan ini. Apa, Mengapa, Bagaimana Sosiologi Olahraga merupakan pokok pembahasan yang akan kami berikan dibawah ini.
Sosiologi Olahraga
1. Pengertian Sosiologi
Secara umum, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dan proses-proses social yang terjadi di dalamnya antar hubungan manusia dengan manusia, secara individu maupun kelompok, baik dalam suasana formal maupun material, baik statis maupun dinamis.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi diartikan sebagai ilmu masyarakat yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial,termasuk perubahan sosial. Struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu kaidah sosial (norma), lembaga sosial, kelompok serta lapisan sosial. Proses social adalah pengaruh timbale balik antara berbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh timbale balik antara kemampuan ekonomi yang tinggi dengan stabilitas politik dan hukum, stabilitas politik dengan budaya, dan sebagainya.
Telah yang lebih dalam tentang sifat hakiki sosiologi akan menampakkan beberapa karakteristiknya yaitu :
1. Sosiologi adalah ilmu sosial berbeda jika dibandingkan dengan ilmu alam / kerohanian.
2. Sosiologi merupakan disiplin ilmu kategori bukan normatif, artinya bersifat non etis yakni kajian dibatasi pada apa yang terjadi, sehingga tidak ada penilaian dalam proses pemerolehan dan penyusunan teori.
3. Sosiologi merupakan disiplin ilmu pengetahuan murni, bukan ilmu pengetahuan terapan, artinya kajian sosiologi ditujukan untuk membentuk dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak.
4. Sosiologi meupakan ilmu pengetahuan empiris dan rasional artinya didasarkan pada observasi obyektif terhadap kenyataan dengan menggunakan penalaran.
5. Sosiologi bersifat teoritis yaitu berusaha menyusun secara abstrak dari hasil observasi. Abstrak merupakan kerangka unsur yang tersusun secara logis, bertujuan untuk menjelaskan hubungan sebab akibat berbagai fenomena.
6. Sosiologi bersifat komulatif, artinya teori yang tersusun didasarkan pada teori yang mendahuluinya.
Obyek suatu disiplin ilmu dibedakan menjadi obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang menjadi bidang/kawasan kajian ilmu, sedang obyek formal adalah sudut pandang / paradigma yang digunakan dalam mengkaji obyek material.
Sebagai ilmu sosial,obyek material sosiologi adalah masyarakat, sedang obyek formalnya adalah hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Konsepsi masyarakat (society) dibatasi oleh unsur – unsur :
• Manusia yang hidup bersama.
• Hidup bersama dalam waktu yang relatif lama.
• Mereka sadar sebagai satu kesatuan.
• Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang mampu melahirkan kebudayaan.
Secara khusus, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari masyarakat dipandang dari aspek hubungan antara individu atau kelompok. Hubungan yang terjadi karena adanya proses sosial dilakukan oleh pelaku dengan berbagai karakter, dilakukan melalui lembaga sosial dengan berbagai fungsi dan struktur sosial. Keadaan seperti ini ternyata juga terdapat dalam dunia olahraga sehingga sosiologi dilibatkan untuk mengkaji masalah olahraga.
2. Pengertian Sosiologi Olahraga
Sosiologi olahraga merupakan ilmu terapan, yaitu kajian sosiologis pada masalah keolahragaan. Proses sosial dalam olahraga menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan kerjasama membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata yang sudah melembaga. Kelompok sosial dalam olahraga mempelajari adanya tipe-tipe perilaku anggotannya dalam mencapai tujuan bersama, kelompok sosial biasanya terwadahi dalam lembaga sosial, yaitu organisasi sosial dan pranata. Beragam pranata yang ada ternyata terkait dengan fenomena olahraga.
3. Bidang Kajian Sosiologi Olahraga
Bidang kajian sosiologi olahraga sangat luas, mengingat hal itu para ahli berupaya mencari batasan bidang kajian yang relevan misalnya:
1. Heizemann menyatakan bagian dari teori sosiologi yang dimasukkan dalam ilmu olahraga.
2. Plessner dalam studi sosiologi olahraga menekankan pentingnya perhatian yang harus diarahkan pada pengembangan olahraga dan kehidupan dalam industri modern dengan mengkaji teori kompensasi.
3. G Magname menguraikan tentang kedudukan olahraga dalam kehidupan sehari-hari, masalah olahraga rekreasi, masalah juara, dan hubungan antara olahraga dengan kebudayaan.
4. John C.Phillips mengkaji tema yang berhubungan dengan olahraga dan kebudayaan, pertumbuhan, dan rasional dalam olahraga.
5. Abdul Kadir Ateng menawarkan pokok kajian sosiologi olahraga yang meliputi pranata sosial, seperti sekolah, dan proses sosial seperti perkembangan status sosial atau prestise dalam kelompok dan masyarakat.
Berikut ini contoh-contoh sosiologi olahraga yang dinyatakan oleh Abdul Kadir Ateng:
• Pelepasan emosi (dengan cara yang dapat diterima masyarakat).
• Pembentukan pribadi (mengembangkan identitas diri)
• Kontrol sosial (penyerasian dan kemampuan prediksi)
• Sosialisasi (membangun perilaku dan nilai-nilai bersama yang sesuai)
• Perubahan sosial (interaksi sosial, asimilasi dan mobilitas)
• Kesadaran (pola tingkah laku yang benar)
• Keberhasilan (cara pencapaian dengan turut aktif atau sebagai penikmat)
Dari berbagi definisi diatas dapat disimpulkan bahwa olahraga sebagai suatu aktivitas yang melibatkan banyak pihak telah disikapi secara dinamis dari pemahaman terhadap yang dianggap sebagai aktivitas primitive untuk mempertahankan hidup berubah menjadi proses sosial yang menghasilkan karakteristik perilaku dalam bersaing dan bekerja sama membangun suatu permainan yang dinaungi oleh nilai, norma, dan pranata lembaga.
Kajian sosiologis yang berkaitan dengan kelompok sosial dapat dikenakan pada olahraga berdasarkan pada beberapa hal yakni situasi kondisi dan struktur, serta fungsi kelompok olahraga. Sarat dengan situasi dan kondisi yang kental akan persaingan dan tata aturan yang relative ketat sehingga tercipta rasa senang, santai, dan gembira.
Berangkat dari paparan diatas, bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama, persaingan dan pertikaian, sehingga membutuhkan penyelesaian sementara waktu, menyadari keterkaitan dan keterikatannya dengan individu lain. Manusia membentuk kelompok sosial untuk memecahkan masalah hidupnya dengan mengunakan pendekatan ilmu sosiologi.
Olahraga telah diapresiasikn sedemikian tinggi sebagai media untuk menunjukkan hegemoni, sehingga untuk menyelenggarakan,dan menciptakan para pelakunya, telah diupayakan berbagai pendekatan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, yang disebut pendekatan inter-disiplin adalah pendekatan yang didasarkan pada pengetahuan dari ilmu psikologo, sosiologi, anatomo, dan fisiologi. Sedangkan pendekatan cros-disiplin adalah pendekatan yang difokuskan pada ilmu motor learning, psikologi olahraga, dan sosiologi olahraga.
Infomations
sosiologi olahraga, pengertian olahraga, makalah olahraga, makalah sosiologi, pengertian sosiologi, makalah sosiologi olahraga, pengertian sosiologi olahraga, makalah tentang olahraga, makalah olah raga, contoh makalah olahraga, sosiologi olahraga di masyarakat, pengertian olah raga, sosiologi olah raga, definisi olahraga, makala olahraga, contoh makalah sosiologi, sosiologi, makalah tentang sosiologi, sosiologi olahraga adalah, makalah sosiologi olah raga,
Tags: Artikel, Makalah Sosiologi Olahraga, Olahraga, Pendidikan Olahraga, PENGERTIAN SOSIOLOGI OLAHRAGA, Teori Sosiologi Olahraga
Written by jurug
http://www.jurug.com/artikel-pendidikan/makalah-pengertian-sosiologi-olahraga.html
Olahraga Indonesia Makin Terpuruk, Mengapa? - (Refleksi Hari Olahraga Nasional, 9 September 2009)
Salah satu pencitraan sebuah negara kini tidak hanya dilihat dari kesejahteraan, pendidikan, ekonomi, dan kekuatan militer. Olahraga pun menjadi sebuah pencitraan manis tentang bagaimana masyarakat dunia memandang sebuah negara. Sebuah pertanyaan besar akan penyebab kondisi keterpurukkan olahraga Indonesia agaknya sering terlontar dari benak pemuda-pemuda bangsa yang berniat untuk memajukan Indonesia.
Pada dasarnya banyak hal yang menyebabkan keterpurukan kondisi olahraga Indonesia. Tak dapat dipungkiri jika di beberapa daerah, minimnya fasilitas latihan serta pendanaan masih menjadi masalah klasik yang menghantui pembinaan-pembinaan olahraga.
Ada sebuah hal unik yang dapat kita ambil jika olahraga mampu menganalogikan sebuah karakter bangsa.
Minimnya prestasi olahraga kita saat ini ternyata berbanding lurus dengan minimya rasa nasionalisme bangsa Indonesia.
Rasa kebangsaan masyarakat Indonesia dirasa telah berkurang akibat pengaruh globalisasi. Arus informasi yang begitu luas secara tidak langsung telah memengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia untuk materialisme. Beberapa kasus ditunjukkan oleh beberapa punggawa Tim Nasional PSSI yang menolak masuk Pelatnas akibat bayaran yang tak sepadan. Kasus kecil lain adalah tidak hafalnya beberapa punggawa Timnas akan 5 ayat dalam Pancasila. Contoh lain adalah maraknya kasus kepindahan atlet ke provinsi lain (saat PON 2008) demi mencari bayaran tinggi.
Minimnya rasa nasionalisme yang melekat pada insan-insan olahraga Indonesia (bukan hanya atlet tapi hingga jajaran pengurus, bahkan beberapa elite politik) mengakibatkan turunnya daya juang para atlet. Sebagian insan olahraga tidak murni lagi memperjuangkan prestasi olahraga nasional untuk nama Indonesia, melainkan juga untuk hal-hal yang lain. Tak jarang kancah olahraga kita digunakan sebagai salah satu media kampanye seperti yang terjadi pada pilkada di beberapa daerah.
Atlet dan Kesejahteraannya
Tak jarang seorang atlet lebih memikirkan materi dalam setiap tugasnya. Kondisi tersebut tak sepenuhnya dapat disalahkan. Turunnya rasa nasionalisme atlet untuk mengharumkan nama bangsa bisa jadi muncul akibat kekecewaan atlet terhadap perilaku bangsanya sendiri yang tidak menghargai torehan prestasi mereka.
Peribahasa habis manis sepah dibuang pun menjadi perasaan para atlet saat ini. Dilematika antara keinginan untuk mengibarkan bendera Indonesia di atas podium dengan permasalahan perut. Dalam setiap peluh latihan mereka pun muncul kekhawatiran akan nasib masa depan mereka saat tak mampu bersinar lagi.
Isu untuk meningkatkan kesejahteraan atlet sebenarnya sudah digemborkan oleh Adhyaksa Dault pada tahun 2005 dengan program 1000 rumah bagi atlet berprestasi. Namun tetap saja isu tentang cara menyejahteraankan atlet tetap jadi permasalahan.
Belakangan kini telah muncul sebuah paradigma bahwa ternyata pemerintah terlalu mudah memberikan atlet kail serta pancing tanpa memberitahu cara menggunakannya. Pemerintah mengklaim bahwa atlet kita kurang mampu mengelola kekayaan yang telah mereka dapatkan semasa bersinar.
Permasalahan di atas pada dasarnya bukan tanggung jawab pemerintah semata, tapi juga tanggung jawab kita. Pertanyaan yang muncul saat ini adalah seberapa sering kita mengapresiasi dunia olahraga negeri ini?
Seberapa sering kita menonton pertandingan olahraga secara langsung maupun tak langsung untuk mendukung Indonesia?
Kesadaran akan kepedulian konkret untuk mengapresiasi dunia olahraga kurang terbangun di diri kaum muda. Sangat naif jika kita tak mampu belajar dari pendahulu kita para pemuda era perjuangan yang memang belum mampu berkontribusi besar untuk mengapresiasi dunia olahraga.
Jika kaum belum mampu belajar untuk membangun hal itu, maka kemungkinan besar kita tetap tidak akan menghargai jasa para atlet masa depan Indonesia di masa yang akan datang. Bisa saja prestasi buruk olahraga Indonesia di masa kini dan masa datang akan tetap ada. Wajar jika adik-adik kecil kita yang tengah duduk di sekolah dasar hanya bercita-cita menjadi dokter, pilot, ilmuwan, dan profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan. Dan tak diherankan jika tak satupun dari mereka ingin menjadi atlet.
Nama besar sebuah Negara tak hanya dilihat dari pendidikan, ekonomi, kesejahteraan, dan militer. Nama besar sebuah Negara juga akan dilihat dari prestasi olahraganya. Begitu juga dengan Indonesia. Mari berpikir secara menyeluruh. Mulai saat ini, mari kita berpikir bersama memajukan olahraga Indonesia.
Entri Populer
-
Sosiologi Olahraga, Bagi Anda yang sedang menempuh perkuliahan POK sepertinya medapatkan materi perkuliahan sosiologi olahraga dan umumnya p...
-
Assalamualaikum Wr,wb.. Ingin mengatakan kebenaran diperlukan keberanian yang sangat besar. Siapkah kamu untuk kehilangan apa yang telah k...
-
ketika Aku mulai Berkenalan denganmu... Semuanya Terasa sangat Indah, Hanya dalam Beberapa Hari kita sudah Jadian,. Dalam Beberapa h...
-
Assalamu'alaikum wr,wb eh... ada suratnya lagi... maaf ya sayang.. ngga aku tulis dengan tangan.. tapi aku tulis dengan tinta cintak...
-
Amuntai,24 Mei 2013 Buat Kamu... !!!! Iya Kamu.... Orang Yang Aku Sayang...emuachh Assalamu’alaikum,Wr.Wb Hai sayang... Kamu lagi Apa.....
-
Apa yang bakalan kamu jawab kalau ada yang bertanya pernahkah kamu merasakan jatuh cinta(cinta yang sebenarnya)..... Jangan khawatir karena ...
-
Apa yang salah pada diri ku Sehingga menyebabkanmu merasa kalau aku tidak pantas untuk kau perhitungkan Apakah keinginanku untuk mandiri mem...
-
Ngga heran kalau Kota Banjarmasin objek wisatanya terkesan buruk dan Tidak terurus Oleh pemerintah Daerahnya.... katanya ingin memajukan par...
-
rasanya terlalu berhayal untuk bisa mendapatkan hal yang seperti itu........... dengan didikan keluarga yang sederhana dan hanya bisa meneri...
-
tambah ruwet urusannnnnnnnnnnnnnnnnnnnn. kenapapada ikut campur semuaaaaaaaaaaaa
Sabtu, 28 Mei 2011
Jumat, 27 Mei 2011
Assalamualaikum Wr,wb..
Ingin mengatakan kebenaran diperlukan keberanian yang sangat besar.
Siapkah kamu untuk kehilangan apa yang telah kamu miliki sekarang...
Jangan tanyakan kepadaku....
Karena aku pun masih takut....
Tapi kebenaran itu akan tetap aku simpan dilam hatiku.
jangankan untuk membuat semuanya jadi sempurna...
mempertahankannya pun sangat susah..
keberhasilan sangat susah dipertahankan....
Ijinkan lah aku mempertahankan apa yang telah aku punya ya Allah...
Dan yakinkan aku Untuk tetap berjalan dijalan mu......
Ingin mengatakan kebenaran diperlukan keberanian yang sangat besar.
Siapkah kamu untuk kehilangan apa yang telah kamu miliki sekarang...
Jangan tanyakan kepadaku....
Karena aku pun masih takut....
Tapi kebenaran itu akan tetap aku simpan dilam hatiku.
jangankan untuk membuat semuanya jadi sempurna...
mempertahankannya pun sangat susah..
keberhasilan sangat susah dipertahankan....
Ijinkan lah aku mempertahankan apa yang telah aku punya ya Allah...
Dan yakinkan aku Untuk tetap berjalan dijalan mu......
Rabu, 18 Mei 2011
Pariwisata..

Ngga heran kalau Kota Banjarmasin objek wisatanya terkesan buruk dan Tidak terurus
Oleh pemerintah Daerahnya.... katanya ingin memajukan pariwisata daerah.... tapi kenapa... banyak objek wisata yang tidah diurus dengan baik.... sampah berhamburan, jalannya yang rusak, pungutan yang banyak dan tidak terkontrol secara baik... wah cape aku melihatnya.... Seandainya saja... pemkab dapat memperhatikan danmengawasi objek wisatanya dengan baik... saya yakin banyak dari warganya dapat mencari rezeki dari perkembangan pariwisata tersebut.... dan juga dapat mendatangkan pemasukan bagi pendapatan daerah.....
kesalahan

Apa yang salah pada diri ku
Sehingga menyebabkanmu merasa kalau aku tidak pantas untuk kau perhitungkan
Apakah keinginanku untuk mandiri memberati hatimu.
Apakah keinginanku, agar bisa kau perhatikan juga salah...setelah semua yang kulakuakan untukmu..... menyayangi dan mengajarimu dengan tulus hati.
Adakah salah yang kulakukan padamu..?
Kalau ku memang salah, maka katakanlah... sebelum kata2 itu menjadi tembok pemisah antara kita.....
Langganan:
Komentar (Atom)